BOOK REVIEW
MENDIDIK PEMIMPIN DAN
NEGARAWAN
(BAGIAN I)
Sebuah buku
berjudul “Mendidik Pemimpin dan Negarawan, Dialekta Filsafat Pendidikan Politik
Platon Dari Yunani Antik Hingga Indonesia.” Disusun oleh A Setyo Wibowo dan
Haryanto Cahyadi. Diterbitkan oleh Lamalera – Yogyakarta dengan ISBN
978-979-25-4845-6.
Ada hal yang sangat menarik dari buku tersebut,
khususnya pada halaman 38 yang
menyatakan: Di Indonesia, kesalahan pokok
yang banyak dilakukan adalah berkhayal bahwa semua anak harus dididik sama sebagai
kader semua. Akhirnya, karena faktanya banyak anak yang tidak mampu, maka
standar mutu penilaian diturunkan supaya seolah-olah semua anak tetap merasa
sebagai kader yang sah. Ketika seleksi natural (atas dasar bakat alamiah) tidak
berjalan, ketika kita memalsukan kenyataan, akibatnya banyak pos penting
pelayanan masyarakat akhirnya dihuni orang-orang yang sebenarnya tidak kompeten,
namun bisa menempatinya karena ijazah dan gelar yang dimiliki. Kondisi
demikian selanjutnya disebut oleh penulis “Melahirkan
budaya internal” yang berlandaskan kepada kesamaan aspek. Aspek yang paling
menonjol adalah “Nyogok”, yang
menempatkan kelangsungan negara ini berada diujung tanduk.
Point penting dalam bagian I buku tersebut adalah
eksistensi seorang pemimpin yang akan menentukan kelangsungan hidup suatu
komunitas atau bahkan suatu negara. Dikatakan bahwa pemimpin adalah orang yang
memiliki visi, yang membiarkan dirinya ditarik oleh visi itu, yang tidak
perduli ada orang yang mengikuti atau tidak, yang memuaskan diri untuk hidup
dalam visinya, yang tidak mencari-cari dengan sengaja supaya ia memiliki
kekuasaan dan menjadi pemimpin.
Dengan berbekal kepada filsafat ilmu yang terus
bertanya, maka pertanyaan yang muncul dalam bagian I buku tersebut adalah “Mungkinkah mendidik calon pemimpin? Dalam
pencarian jawaban memunculkan pemikiran kaum sofis yang menekankan proses
indoktrinasi atau memberikan penglihatan atau mengisi ilmu kedalam
kepala-kepala murid yang kosong.
Pandangan kaum sofis tersebut ditentang oleh Platon
dalam buku “Politeia” (The Republic), bahwa untuk melahirkan pemimpin yang elok dan
baik (Kaloskagathos) tergantung
kepada ada atau tidak adanya bakat pemimpin pada seorang calon pemimpin,
sehingga pendidik sekedar membebaskan daya yang sudah ada dalam jiwa seseorang supaya
mereka mampu belajar sendiri, atau membalikan arah pandangan (conversio) sehingga menyukai kebaikan
(sensibilitas). Kemudian disamping pendidikan fisik, calon pimpinan tersebut di
isi dengan ilmu-ilmu lain (intelektual) sehingga arah penggunaan ilmunya adalah
untuk kebaikan. Selanjutnya calon pemimpin tersebut mampu naik keatas (Proses
anabis).
Sebagaimana dikutip dalam buku “Mendidik Pemimpin dan
Negarawan,” terdapat satu irama yang sama mengenai kelahiran seorang pemimpin
antara Platon dengan karyanya “Alegori Goa”
dan perspektif modern Richard Bach dalam karyanya Jonathan Livingstone Seagull.” Bahwa seorang pemimpin lahir karena
adanya bakat, adanya visi yang membebaskan diri dari tahanan, selanjutnya
adanya proses pendidikan yang melahirkan seorang pemimpin. “Alegori Goa” mendapatkan pendidikan
melalui proses otodidak dengan menikmati hidup diluar goa sedangkan Jonathan Seagull mendapatkan pendidikan
dari guru Chiang. Kemudian keduanya kembali ke komunitas awalnya untuk
membalikan arah pandangan (conversio)
komunitasnya dengan segala resiko yang dapat diperkirakan.
Bagian I buku ini sangat padat dan merupakan jiwa dari
bagian lain dalam buku “Mendidik Pemimpin dan Negarawan.” Buku ini memang
sedikit sekali membahas kepemimpinan bangsa Indonesia, namun memberi makna yang
sangat dalam bahwa para pemimpin Indonesia diberbagai sektor ‘sepertinya’
kehilangan aspek menyukai kebaikan (sensibilitas), tidak memiliki visi, tidak
memiliki bakat pemimpin, bahkan budaya internal telah menutup intelektual.
Review oleh :
Firman Fadillah dan Tety Machyawaty
Mahasiswa
S3 Ilmu Kepolisian STIK-PTIK
Angkatan
I Tahun 2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar