Minggu, 12 Juli 2015

BOOK REVIEW MENDIDIK PEMIMPIN DAN NEGARAWAN (BAGIAN I)



BOOK REVIEW
MENDIDIK PEMIMPIN DAN NEGARAWAN
(BAGIAN I)

 Sebuah buku berjudul “Mendidik Pemimpin dan Negarawan, Dialekta Filsafat Pendidikan Politik Platon Dari Yunani Antik Hingga Indonesia.” Disusun oleh A Setyo Wibowo dan Haryanto Cahyadi. Diterbitkan oleh Lamalera – Yogyakarta dengan ISBN 978-979-25-4845-6.
Ada hal yang sangat menarik dari buku tersebut, khususnya pada  halaman 38 yang menyatakan: Di Indonesia, kesalahan pokok yang banyak dilakukan adalah berkhayal bahwa semua anak harus dididik sama sebagai kader semua. Akhirnya, karena faktanya banyak anak yang tidak mampu, maka standar mutu penilaian diturunkan supaya seolah-olah semua anak tetap merasa sebagai kader yang sah. Ketika seleksi natural (atas dasar bakat alamiah) tidak berjalan, ketika kita memalsukan kenyataan, akibatnya banyak pos penting pelayanan masyarakat akhirnya dihuni orang-orang yang sebenarnya tidak kompeten, namun bisa menempatinya karena ijazah dan gelar yang dimiliki. Kondisi demikian selanjutnya disebut oleh penulis “Melahirkan budaya internal” yang berlandaskan kepada kesamaan aspek. Aspek yang paling menonjol adalah “Nyogok”, yang menempatkan kelangsungan negara ini berada diujung tanduk.
Point penting dalam bagian I buku tersebut adalah eksistensi seorang pemimpin yang akan menentukan kelangsungan hidup suatu komunitas atau bahkan suatu negara. Dikatakan bahwa pemimpin adalah orang yang memiliki visi, yang membiarkan dirinya ditarik oleh visi itu, yang tidak perduli ada orang yang mengikuti atau tidak, yang memuaskan diri untuk hidup dalam visinya, yang tidak mencari-cari dengan sengaja supaya ia memiliki kekuasaan dan menjadi pemimpin.
Dengan berbekal kepada filsafat ilmu yang terus bertanya, maka pertanyaan yang muncul dalam bagian I buku tersebut adalah “Mungkinkah mendidik calon pemimpin? Dalam pencarian jawaban memunculkan pemikiran kaum sofis yang menekankan proses indoktrinasi atau memberikan penglihatan atau mengisi ilmu kedalam kepala-kepala murid yang kosong.
Pandangan kaum sofis tersebut ditentang oleh Platon dalam buku “Politeia” (The Republic),  bahwa untuk melahirkan pemimpin yang elok dan baik (Kaloskagathos) tergantung kepada ada atau tidak adanya bakat pemimpin pada seorang calon pemimpin, sehingga pendidik sekedar membebaskan daya yang sudah ada dalam jiwa seseorang supaya mereka mampu belajar sendiri, atau membalikan arah pandangan (conversio) sehingga menyukai kebaikan (sensibilitas). Kemudian disamping pendidikan fisik, calon pimpinan tersebut di isi dengan ilmu-ilmu lain (intelektual) sehingga arah penggunaan ilmunya adalah untuk kebaikan. Selanjutnya calon pemimpin tersebut mampu naik keatas (Proses anabis).
Sebagaimana dikutip dalam buku “Mendidik Pemimpin dan Negarawan,” terdapat satu irama yang sama mengenai kelahiran seorang pemimpin antara Platon dengan karyanya “Alegori Goa” dan perspektif modern Richard Bach dalam karyanya Jonathan Livingstone Seagull.” Bahwa seorang pemimpin lahir karena adanya bakat, adanya visi yang membebaskan diri dari tahanan, selanjutnya adanya proses pendidikan yang melahirkan seorang pemimpin. “Alegori Goa” mendapatkan pendidikan melalui proses otodidak dengan menikmati hidup diluar goa sedangkan Jonathan Seagull mendapatkan pendidikan dari guru Chiang. Kemudian keduanya kembali ke komunitas awalnya untuk membalikan arah pandangan (conversio) komunitasnya dengan segala resiko yang dapat diperkirakan.
Bagian I buku ini sangat padat dan merupakan jiwa dari bagian lain dalam buku “Mendidik Pemimpin dan Negarawan.” Buku ini memang sedikit sekali membahas kepemimpinan bangsa Indonesia, namun memberi makna yang sangat dalam bahwa para pemimpin Indonesia diberbagai sektor ‘sepertinya’ kehilangan aspek menyukai kebaikan (sensibilitas), tidak memiliki visi, tidak memiliki bakat pemimpin, bahkan budaya internal telah menutup intelektual.

Review oleh :
Firman Fadillah dan Tety Machyawaty
Mahasiswa S3 Ilmu Kepolisian STIK-PTIK
Angkatan I Tahun 2015.